by

PLS FIP Unnes Terapkan ICARE pada Program Pelatihan Kewirausahaan Komunitas Perempuan

KENDAL (suaramerdekaonline.com) – Tiga dosen Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (PLS-FIP Unnes) yakni Dr Tri Suminar MPd, Dr Mintarsih Arbarani MPd, dan Imam Shofwan SPd MPd, memberikan Pelatihan Kewirausahaan dengan model pembelajaran Production Based Training berbasis ICARE di Kampung Literasi Ceria, Desa Pagersari, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Minggu (19/7/2020).

Menurut Tri Suminar, model pembelajaran Production Based Training berbasis ICARE (Introduction, Connection, Application, Reflection, dan Extension) sudah teruji efektif meningkatkan kemampuan wirausaha bagi siswa SMK dan pendidikan vokasi. Namun belum teruji keefektifannya pada kegiatan pelatihan wirausaha bagi orang dewasa.

”Sehingga pelatihan dengan model ICARE bertujuan agar masyarakat memiliki kemampuan literasi kewirausahaan dan dapat merintis wirausaha sesuai keunggulan lokal,” jelasnya.

Di hadapan 15 ibu-ibu Kampung Literasi Ceria Kendal yang menjadi peserta pelatihan, Tri Suminar
membagikan 11 tips atau kiat sukses menjadi pengusaha rumahan.

”Jangan takut bermimpi. Impian = khayalan, namun impian + tindakan = kesuksesan.”

Dia melempar pertanyaan kepada ibu-ibu peserta apa saja impian dalam waktu dekat ini. Salah seorang peserta, Khoir menyatakan impian atau keinginannya menambah armada sepeda motor bagi usahanya, yakni sayur delivery.

”Dengan motor satu, sayur sering terlambat sampai ke konsumen. Saya ingin menambah satu sepeda motor lagi. Itu impian saya saat ini,” kata Khoir, pemilik usaha sayur delivery.

Dalam pelatihan kerjasama antara LP2M Unnes dan Kampung Literasi Cerita Kendal, itu Tri Suminar mengapresiasi Khoir sebagai sosok ibu pengusaha (UMKM) muda yang menerapkan satu tips pengusaha sukses.

”Bu Khoir sudah punya modal awal usaha sayur delivery. Impiannya nambah sarana distribusi. Ini luar biasa.”

Selain Tri Suminar dkk, pelatihan kewirausahaan yang menerapkan ICARE dibantu mahasiswa Unnes, Novi Setiawan.

Menurut Tri, pengusaha harus berani mengambil risiko, mengubah pola pikir. Kegagalan meski menyeramkan seperti monster, namun suatu saat bisa menjadi teman menggapai kesuksesan. Pengusaha harus bersedia masukan dari orang lain, memiliki sikap antusias, pekerja keras, punya banyak teman, tak pernah menunda pekerjaan, dan rela berbagi.

Dalam kesempatan itu dipraktikan cara membuat nugget dari bahan tumbuh-tumbuhan dan mi instan.

Imam Shofwan SPd MPd memberi pelatihan tentang Strategi Pemasaran Industri Rumahan (nugget) secara online. Menurut dia butuh persiapan untuk memasarkan sebuah produk. Bentuk produk dan kemasan harus eye katching (menarik dipandang mata).

”Di era digital ini ibu-ibu harus menyesuaikan zaman. Pemasaran lebih ke online dari pada offline. Maka ibu-ibu harus punya media sosial (medsos) seperti facebook. Sehingga produk yang sudah disiapkan itu tinggal di uplod (dipasarkan) di facebook. Selain itu produk bisa diupload di youtube, jadi jika youtube kita sudah banyak subscribernya kita selain mendapatkan keuntungan dari penjualan produk kita juga terkenal dan mendapatkan penghasilan dari youtube,” jelasnya.

Penggagas Kampung Literasi Ceria, Desa Pagersari, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Munawar menyambut baik Pelatihan Kewirausahaan dari dosen dan mahasiswa Unnes tersebut.

”Saya berharap ibu-ibu bisa menjual produk rumahannya di medsos. Baik itu nugget berbahan dasar sayuran atau sayuran itu sendiri,” kata Munawar. (baim/01)

Comment

News Feed