by

Jangan Kungkung Anak-anak dengan Beragam Aturan di Luar Jam Belajar

SEMARANG (suaramerdekaonline.com) – ”Jangan kungkung anak-anak di luar jam belajar,” tegas  Prof Tri Joko Raharjo, Guru Besar Unnes saat menjadi pemateri Bimtek Peningkatan Profesionalitas Guru dan Kualitas Pembelajaran di Masa Pandemik, di SD Bojongsalaman 02, Semarang Barat, Rabu (15/7/2020).

Meski di dalam lingkungan sekolah, lanjut dia, istirahat selama  setengah jam itu masuk katagori di luar jam belajar.

”Pada saat istirahat di sekolah, beri kesempatan anak-anak mengekspresikan diri. Asal tidak berbahaya bagi diri sendiri, membahayakan teman-temannya, atau melanggar norma agama, adat, dan kesusilaan.”

 

Prof Tri Joko Raharjo menjadi pemateri pada Bimtek Peningkatan Profesionalitas Guru dan Kualitas Pembelajaran di Masa Pandemik, di SD Bojongsalaman 02, Semarang Barat, Rabu (15/7/2020).

Lebih jauh Prof Tri menegaskan, contoh yang selama ini terjadi dil

Pemateri dan para peserta Bimtek Peningkatan Profesionalitas Guru dan Kualitas Pembelajaran di Masa Pandemik, di SD Bojongsalaman 02, Semarang Barat, Rabu (15/7/2020) berdiri saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. (ning-01)

akukan oleh anak-anak atau peserta didik selepas dinyatakan lulus oleh sekolahnya.

”Lihat itu, begitu dinyatakan lulus, mereka saling mencorat-coret pakaiannya dengan cat semprot. Bahkan, kini tren itu merambah pada rambut hingga sepatu, semua dicorat-coret. Seolah itu sebuah kewajiban. Padahal secara psikologis mereka  itu merasa lepas dari belenggu beragam aturan selama bersekolah,” katanya.

Padahal, kata Prof Tri, aturan itu dibuat untuk membuat para peserta didik menjadi baik. Namun, karena terlalu banyak aturan sehingga pemberontakan itu diwujudkan dalam bentuk mencorat-coret pakaian setelah dinyataan lulus.

”Tak hanya itu,  sebagian di antara anak-anak kita itu berkonvoi dengan motor yang knalpotnya dicopot sehingga memekakkan telinga sehingga harus berurusan dengan aparat yang berwajib. Padahal awalnya, perayaan lulusan sekolah diawali dengan saling menandatangani baju teman sekelas, itu sebagai kenang-kenangan dan bisa dipakai lagi saat reuni beberapa tahun kemudian.”

 

Guru Membuat Nyaman Murid

Untuk itulah, di hadapan sekitar 50 peserta Bimtek, Prof Tri meminta agar kehadiran guru di kelas bisa menjadi rahmatan lil alamin. Kehadirannya membuat membahagiakan dan menyamankan.

‘’Di kelas membahagiakan dan membuat nyaman murid-muridnya. Di luar kelas juga demikian. Pokoknya kehadiran guru di mana dan kapanpun juga selalu menyejukkan, menyenangkan, mencerahkan, dan membagiakan,’’ tegasnya.

Jadi, Prof Tri merasa aneh saat mendengar kabar ada guru tertangkap aparat sedang selingkuh. Apalagi hal itu dilakukan sesama guru.

”Saru, dosa, malu, memalukan. Kalau sudah punya istri, jangan selingkuh. Lebih baik menikah lagi. Boleh itu, namanya lelaki sejati. Dengan catatan kalau mampu. Ya mampu dalam hal ilmu agamanya, mampu dalam hal finansialnya, dan mampu dalam berbagi cinta kasih dengan istri-istrinya.’’

Bimtek bertema Membangun pendidik yang profesional, berkarakter, humanis, dalam masa pandemik menuju guru yang cerdas itu diikuti 50 guru SD se Kecamatan Semarang Barat dihadiri sejumlah kepala sekolah.

Antara lain, Kepala SD Bojongsalaman 02 Susi Susanti SPd, Sumarni SPd (Gisikdrono 01), Endang Mahrumiyati SPd (SD Manyaran 02),   Nur Azizah SPd (SD Kalibanteng Kidul 02), Siti Choiriyah (SD Karangayu 01), dan Hadi Wagiman (SD Tawangmas 02).

Pada kegiatan yang dihadiri Koordinator Satuan Pendidikan Kecamatan Semarang Barat Sudiyanto SPd MPd dan Jumari SPdI SPd Sd, Prof Tri kembali menegaskan bahwa guru harus bisa menciptakan suasana kelas menjadi nyaman.  Sehingga para peserta didik bisa gampang menyerap ilmu dari gurunya. (ning-01)

Comment

News Feed