by

Ginsi dan Insa Dukung Layanan Satu Pintu di Tanjung Emas Semarang

​SEMARANG (suaramerekaonline.com) – Gabungan importir nasional seluruh Indonesia (Ginsi) mengapresiasi positif adanya layanan sistem Single Submission (layanan satu pintu) dan Joint Inspection Pabean – Karantina di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

“Pelayanan satu atap ini akan memberikan kemudahan pada pelaku usaha yang berkegiatan di pelabuhan khususnya pelayanan kontainer,” kata Budiatmoko (Koko), Ketua Ginsi Jawa Tengah dalam kunjungannya ke kantor Karantina Pertanian Semarang.

Dia yang didampingi sekretaris Ginsi, Wahyudi menambahkan pihaknya akan terus mendukung kinerja karantina pertanian Semarang dan bea cukai maupun BKIPM dalam layanan impor komoditas pertanian melalui single submission dan joint inspection untuk memangkas waktu dan biaya.

Kepala karantina pertanian Semarang, Parlin Robert Sitanggang yang menerima kunjungan tersebut menuturkan, sejatinya dengan layanan satu pintu ini justru menguntungkan importir. ”Tidak perlu 2 kali pemeriksaan dan 2 kali pemeriksaan,” tegasnya.

Budiatmoko mengapresiasi penerapan sistem ini karena sebelumnya para importir harus mengajukan dua kali perizinan ke bea cukai dan karantina.

“Dengan sistem ini akan ada percepatan waktu 2 hari sehingga menguntungkan importir,” katanya lagi.

Ginsi berharap program ini dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk memangkas waktu dan biaya pengeluaran kontainer. Langkah-langkah tersebut bisa diterapkan dengan baik dan bisa menjadi solusi untuk mendorong perekonomian indonesia khususnya di Jateng di saat pendemi covid 19.

Seperti diketahui bahwa pengurusan dokumen untuk pengiriman barang, baik ekspor dan impor di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, sekarang membutuhkan waktu lebih singkat dalam pengurusan dokumen Pabean dan proses kekarantinaan.

Bea Cukai, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang, Balai Karantina Pertanian Semarang dan Terminal Peti Kemas (TPKS) Tanjung Emas Semarang membuat sistem Single Submission (Sistem Pelayanan Satu Pintu) dan Joint Inspection Pabean – Karantina di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Sebelumnya, proses pabean dan karantina membutuhkan waktu 3 hari 23 jam yakni proses bongkar muat barang dari kapal, pengecekan barang hingga barang keluar dari pelabuhan. Dengan Single Submission dan Joint Inspection, hanya butuh dua hari

Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Emas Semarang, Anton Martin mengatakan sebelum adanya Single Submission (SSm) para pengguna jasa pengiriman barang harus melaporkan dokumen barang yang dikirim kepada Bea Cukai dan Balai Karantina. Selain itu dalam proses pengecekannya dilakukan sendiri-sendiri yakni antara pihaknya dengan pihak karantina dilakukan terpisah sehingga membuat waktu dwelling time menjadi lama.

“Dengan adanya SSm pengguna jasa hanya mengunggah dokumen satu kali saja, dan waktu inspeksi akan dilakukan bersama-sama antara Bea Cukai dengan Karantina secara beririsan,” katanya dalam Sosialisasi SSm dan SOP Joint Inspection pada Jumat (26/6/2020).

Program SSm dan Joint Inspection di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang adalah pilot project bagi pelabuhan niaga di Indonesia. Program ini baru berlaku untuk 16  pelaku usaha pengiriman barang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Jika pelabuhan-pelabuhan niaga siap seperti pelabuhan Belawan, Pelabuhan Tanjung Perak, dan Pelabuhan Tanjuk Priok, maka seluruh pelaku usaha akan menggunakan sistem yang sama.

Kepala Kantor Otoritas Syahbandar Pelabuhan (KSOP), Junaidi mengatakan bahwa dengan adanya SSm dan Joint Inspection ini akan mempercepat proses dwelling time di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. (ning-01)

Comment

News Feed