by

Prof Tri: Pendidik Berkarakter Akan Disegani Murid

SEMARANG (suaraerdekaonline.com) –  ”Guru tak boleh menyuruh siswa membeli rokok atau makanan,” kata Prof Tri Joko Raharjo, salah satu begawan Universitas Negeri Semarang (Unnes) kepada 115 guru MAN dan kalangan pendidik dari Jawa dan Sumatra dalam webinar Jumat (10/7/2020).

”Pendidik yang berkarakter harus berwibawa. Guru akan disegani jika bisa mengimplementasikan kewibawaan secara tepat. Namun, jangan kewibawaan itu dengan hal-hal yang remeh temeh. Misalnya, menyuruh siswa untuk membeli rokok atau makanan. Sebab, itu bukan semata-mata untuk kepentingan pendidikan,” tegasnya.

Untuk meraih kewibawaan dan disegani murid itu, lanjut Prof Tri,  para guru harus melakukan contoh-contoh yang bisa diteladani. Antara lain tidak boleh bohong dalam hal apapun. Di samping itu, guru harus memahami bahwa anak-anak punya kemampuan dan punya bakat. Maka, memdorong dan memberi bimbingan dengan tulus pada akhirnya akan dihormati dan disegani murid.

 

”Mengapa lambang pendidikan ada tulisan Tut Wuri Handayani? Kok tidak Ing Ngarso Sung Tulodo atau Ing Madyo Mbangun Karso? Karena bangsa kita ini sulit untuk percaya. Maka, kaum pendidik dituntut untuk tut wuri memberi kepercayaan kepada murid. Anak-anak jangan sering dicurigai. Sedikit-sedikit dilarang. Ini tidak boleh, itu tidak boleh,” ujarnya.

Guru adalah Referensi

Lebih jauh Prof Tri mengingatkan posisi guru. Guru adalah panutan. ”Kita ini guru. Kita ini pendidik. Kita ini referensi. Kita ini rujukan. Kita ini panutan. Aneh jika ada guru yang selingkuh, apalagi guru MA (Madrasah Aliyah) yang berada di lingkungan Kemenag. Itu hal yang aneh. Hati-hati kalian,” katanya.

Selain Prof Tri, pembicara lain adalah Prof Dr Joko Sutarto MPd dan Prof Dr Fakhruddin MPd. Webinar bertajuk ”Profesor FIP Unnes go to School: Membangun pendidik berkarakter dan profesional di masa pandemi” itu dimoderatori dosen Unnes Harianingsih ST MT dengan pengantar Ketua LP3 Unnes Dr Ngabiyanto MSi.

Lebih jauh Prof Tri menambahkan, di India, guru masuk dalam Kasta Brahmana. Meski bergaji kecil, itu bukan masalah bergantung bagaimana menyikapinya. Guru harus sadar posisi. Karena sebagai panutan dan pendidik, maka guru tidak boleh salah. Terutama dalam bersikap di kehidupan sehari-hari.

Menurut dia pendidik yang berkarakter harus mampu melakukan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan, salah satunya kewibawaan dan tanggungjawab pembelajaran.

”Pendidik MAN yang berkarakter membudayakan 6S. Senyum, Sapa, Salam, Sabar, Sehat, dan Syukur. Kehilangan harta bisa dicari lagi, kehilangan kesehatan merasa sebagian dari diri kita hilang, namun ketika kehilangan karakter berarti kehilangan semuanya.”

 

Pembicara lain Prof Joko Sutarto menyatakan guru harus tangguh dan adaptif. ”Sekarang tidak lagi belajar secara offline namun online. Bagaimanapun bentuk sistem pengajaran atau proses pembelajaran dan belajar mengajar, guru tetap tak tergantikan oleh siapapun. Misalnya, guru tidak bisa diganti robot,” tegasnya.

Sementara itu Prof Fakhruddin menyatakan ada empat tipe guru. Pertama, guru yang hanya bisa memindahkan informasi dari buku ke subjek didik. Kedua, guru yang bisa menjelaskan sebuah masalah atau buku ajar. Ketiga, guru yang bisa menunjukkan materi ajar dengan baik.

”Keempat, adalah tipe yang paling ideal. Yakni, guru yang bisa menjadi inspirasi bagi subjek didiknya.” (ning/01)

Comment

News Feed