by

Lulusan SMK di Desa Jadi Ancaman Pengangguran Usia Produktif

suaramerdekaonline.com (Ungaran) Lulusan SMK yang ada di desa-desa menjadi salah satu ancaman pengangguran usia produktif bangsa Indonesia. Hal itu ditegaskan Dr Marlock, pendiri Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia (FP3MKI) pada Fokus Grup Diskusi (FGD) SMK Mbangun Desa di Gazebo SMK Negeri H Moenadi Ungaran (5/11/19).

”Banyak lulusan SMK di desa tidak terserap dalam dunia kerja karena terbatasnya industri dan lapangan kerja. Akibatnya potensi daerah tidak tergarap secara maksimal. Endingnya, lulusan SMK belum bisa meningkatkan perekonomian bangsa, bahkan menjadi ancaman pengangguran usia produktif,” tegasnya.

Menurut Marlock, peran SMK saat ini sekadar aksi sosial. Bukan pada pemanfaatkan kompetensi sesuai jurusan akademik di sekolahnya.

Hal ini butuh solusi pemecahan masalah yang lebih kongkrit. Yakni, dengan menyiapkan dan melatih siswa dengan kegiatan yang mengarah kewirausahaan sehingga mempunyai bekal ketika lulus nanti dan bisa ikut serta membangun desanya.

”Antara lain, pertama dengan membuka dan memanfaatkan lahan kosong menjadi lahan pertanian produktif melalui swa benih sendiri, penyediaan hasil pertanian (buah) lokal. Kedua, membuka mini market, usaha perdesa sesuai kompetensi jurusan yang ada di sekolah tersebut,” ujarnya.

Misalnya, Jurusan Peternakan dengan membuka usaha satu SMK satu kandang. Jurusan Farmasi dengan membuka apotik. Jurusan TKR dengan membuka usaha bengkel sepeda motor, dll.

 

Siswa SMK Negeri H Moenadi Ungaran saat praktik di lapangan.

 

Sekolah Menghapus Kemiskinan

Lebih jauh Marlock yang akrab dipanggil Gus Mar menegaskan bahwa SMK memiliki keunggulan dibanding sekolah non kejuruan. Antara lain para siswanya mudah dilatih kompetensi kejuruan dan ketrampilan yang bisa dimanfaatkan untuk membangun desanya.

”SMK siap membantu ekonomi kreatif desa melalui pembuatan unit usaha yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi warga desa, dengan mengembangkan potensi daerah/lokal.”

Dr Marlock saat tampil sebagai pembicara FGD SMK Mbangun Desa.

Harapannya satu desa satu produk, satu festival satu kecamatan, serta mengangkat kearifan lokal menjadi suatu produk unggulan SMK. ”Kesimpulannya, perlu komitmen bersama dalam memajukan desa antara SMK dan pemerintah desa salah satunya melalui BUMDes. Sehingga SMK menjadi Sekolah Menghapus Kemiskinan. Agar kuat, maka kesepakatan bersama dituangkan dalam MoU sebagai legalitas SMK dan pemerintah desa,” tandasnya.

Kepala SMK Negeri H Moenadi, Ir Nanik Sundari MM dalam sambutannya merasa terhormat karena lembaga pendidikan yang di pimpinnya ditunjuk sebagai tuan rumah FGD SMK Mbangun Desa.

”Mudah-mudahan ini bisa menjadi tonggak gerakan perubahan SMK melalui peran SMK dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah desa pada wilayah sekolah tersebut berada,” katanya.

Nanik menambahkan, bahwa intinya SMK Mbangun Desa agar generasi muda dapat menciptakan usaha mikro di desanya. ”Tidak mencari kerja ke luar desanya.”

Selain SMKN H Moenadi Ungaran, peserta yang ikut dalam FGD SMK Mbangun Desa adalah SMKN 1 Tengaran Kabupaten Semarang, SMK Muhammadiyah Suruh Kabupaten Semarang, SMKN 2 Slawi Kabupaten Tegal, SMK Muhammadiyah Kartasura Kabupaten Sukoharjo, SMKN Wadaslintang Wonosobo, SMK Muhamadiyah Tegal, SMKN 1 Kedawung Sragen, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Kecamatan Ungaran Barat, Kecamatan Ungaran Timur, Kecamatan Tengaran, Kelurahan Susukan Ungaran Timur, Kelurahan Bandarjo Ungaran Barat, Kelurahan Tengaran, dan Komite Sekolah. (alvin)

Comment

News Feed